ibu, adalah pahlawan bagi diri kita.. jasa-jasa nya tak kan pernah bisa terbalas sebesar apapun pembalasan kita.. berikut artikel tentang ibu yang saya kutip dari web . semoga sobat tidak lelah membaca. maknai yang tersirat, betapa besar pengorbanan ibu.
Ibu
Baru sekarang terasa ada ‘sesuatu’ kepada Ibuku. Saya perhatikan
seolah kami berdua berlomba berbuat kebaikan. Ketika saya berbuat satu
kebaikan, Ibu malah lebih baik lagi kepadaku, dengan berpuluh-puluh
kebaikan. Sikapnya melebihi seperti kepada bukan anaknya. Hingga
akhirnya saya merasa kalah; kapan saya bisa membalas kebaikannya, kalau
terus-menerus Ibu selalu berbuat baik dan baik kepadaku? Padahal
seharusnya sayalah yang paling berkewajiban untuk melakukan itu semua –
birrul walidain.
Ketika pulang kampung, selalu saja Ibu menyediakan makanan enak kesukaanku waktu kecil. Blenyik (semacam bergedel terbuat dari campuran ketela dan kelapa) dan ingkung
(ayam utuh) selalu disediakan. “ Ini untukmu,” katanya. Harusnya
sekarang waktukulah untuk menyediakan makanan yang sehat buat Ibuku.
Kala dia butuh asupan untuk memelihara kebugaran tubuhnya yang sudah
renta. Tapi ini malah sebaliknya. Ketika saya tolak, dengan lembutnya ia
menjawab; “Ibu senang, kamu sudah bantu Ibu selama ini. Dan ini sedikit
yang bisa Ibu berikan. Makanlah.” Aku pun terkesima, harus bagaimana
lagi selain menerima dan mensyukurinya. Rasanya seperti mitra dagang.
Jauh di relung hati, tertambat nelangsa, apalagi kalau mengilas balik
kisah – kisah istimewa akan hal ini. Ali bin Husain bin Ali bin Abi
Thalib adalah seorang yang terkenal sangat berbakti kepada ibunya,
sampai-sampai ada orang yang berkata kepadanya, " Engkau adalah orang
yang paling berbakti kepada ibumu, akan tetapi kami tidak pernah
melihatmu makan bersama ibumu." Beliau menajawab, "Aku takut kalau-kalau
tanganku mengambil makanan yang sudah dilirik oleh ibuku. Sehingga aku
berarti mendurhakainya." (Diambil dari kitab Uyunul Akhyar karya Ibnu
Qutaibah). Masih terngiang di dalam ingatan, kalau Ibu suka memberikan
bagian-bagain makanan yang terenak kepada anaknya, untuk menghindari
rebutan dan keributan. Dan sebenarnnya Ibu pasti menginginkan makanan
enak itu, tapi ia mengalah. Rela berbagi dan memilih makan makanan sisa
yang ditolak anak-anaknya. Bahkan, makanan yang tidak enak pun dia
bilang enak, sangat eunak, agar anaknya mau memakannya, mencontohnya.
Ohh, Ibu..! I missed U.
Dan ketika di ujung telepon engkau
bertanya; “Gak ada rencana pulang?” Berarti itu sebenarnya perintah
untuk pulang. Sayang aku selalu beralasan dengan kesibukan-kesibukan,
acara demi acara dan pertemuan ke pertemuan sehingga engkau pun
‘sepertinya’ mafhum adanya. Padahal buat Ibu itu hal sederhana; bertemu
dengan wajah anaknya dan cucu-cucunya. Namun justru sekarang berhadapan
dengan wajah-wajah kesibukan, topeng-topeng acara, dan rupa-rupa meeting
yang abstrak buatnya. Namun, ia mencoba memahami zaman dan segala rupa
dinamikanya. Betapa bersalahnya aku, tidak menjawab panggilan itu dengan
tepat. Malah, aku hanya minta doa agar semua diberi kelancaran dan
kebarokahan. Tidak seperti Haiwah bin Syuraih, seorang ulama besar, yang
suatu hari ketika beliau sedang mengajar, ibunya memanggil. "Hai
Haiwah, berdirilah! Berilah makan ayam-ayam dengan gandum." Mendengar
panggilan ibunya beliau lantas berdiri dan meninggalkan pengajiannya .
(Diambil dari al-Birr wasilah karya Ibnu Jauzi). Masih jauh panggang
dari apinya.
Bahkan, kala mendengar kabar sakit Ibupun, masih terus sibuk dengan
urusan kerja dan kerja. Seraya dengan mudah bibir ini berkata;”Sudah
dibawa ke dokter kan? Ke rumah sakit saja?” Duh, anak macam apa aku ini.
Begitu ringannya berkata seperti itu, hanya alasan jarak dan waktu. Dan
diri ini tersiksa karenanya. Bertolak belakang dengan Kahmas bin
al-Hasan at-Tamimi. Suatu ketika ia melihat seekor kala jengking berada
dalam rumahnya, beliau lantas ingin membunuh atau menangkapnya. Ternyata
beliau kalah cepat, kalajengking tersebut sudah masuk ke dalam
liangnya. Beliau lantas memasukkan tangannya ke dalam liang untuk
menangkap kala jengking tersebut. Beliaupun tersengat kala jengking.
Melihat tindakan seperti itu ada orang yang berkomentar, "Apa yang kau
maksudkan dengan tindakan seperti itu?"
Beliau mengatakan, "Aku
khawatir kalau kala jengking tersebut keluar dari liangnya lalu
menyengat ibuku." (Diambil dari kitab Nuhzatul Fudhala’). Ibu, berikan
aku kesempatan untuk menjagamu. Maafkanlah anakmu.
Di dalam bebal
memori otak anakmu ini, masih terngiang keinginan-keinginan Ibu. Walau
itu datang samar dan sendu, deburnya masih jauh belum berlalu. Terekam
nian dalam kalbu. Terngiang kencang di telingaku. Aku bisa merasakannya,
namun tidak semua bisa aku penuhi. Walau sudah beribu kali aku mohon
pertolongan Ilahi Robbi dan usaha kanan-kiri. Semoga cukup waktu untuk
semua itu. Dan kemampuan ada bersamaku. Memang tidak seperti cerita
Muhammad bin Sirrin yang mengatakan, di masa pemerintahan Ustman bin
Affan, harga sebuah pohon kurma mencapai seribu dirham. Meskipun
demikian, Usamah bin Zaid membeli sebatang pohon kurma lalu memotong dan
mengambil jamarnya (bagian batang kurma yang berwarna putih yang berada
di jantung pohon kurma). Jamar tersebut lantas beliau suguhkan kepada
ibunya. Melihat tindakan Usamah bin Zaid, banyak orang berkata
kepadanya, "Mengapa engkau berbuat demikian, padahal engkau mengetahui
bahwa harga satu pohon kurma itu seribu dirham." Beliau menjawab,
"Karena ibuku meminta jamar pohon kurma, dan tidaklah ibuku meminta
sesuatu kepadaku yang bisa kuberikan pasti ku berikan." (Diambil dari
sifatush shafwah) Banyak yang bisa aku berikan, sebenarnya, tetapi aku
belum bisa melakukannya. Jiwa ini masih berhitung dengan
prioritas-prioritas yang bahkan dibuat-buat, hingga mengalahkan
prioritas Ibu. Oh, betapa bodohnya aku.
Dalam hening malam bisu,
dalam nestapa anak manusia dan pada waktu yang tersisa, aku selalu
berdoa untuk kebaikanmu Ibu. Masih banyak yang belum bisa saya lakukan,
banyak yang masih harus saya kerjakan, semoga aku bukan menjadi anak
yang durhaka. Melalui dirimulah aku lahir ke dunia, atas jasamulah aku
bisa seperti sekarang dan kepadamulah aku punya kewajiban hak, semoga
engkau bisa menerimanya. Ridha robbi biridhal walaadi. Dan semoga Allah berkenan memberi hidayah kepadamu. Itulah harapan terakhirku. Amin. (pf)
sumber : ldii.or.id
Labels:
Articles,
Artikel,
Knowledge

Previous Article

Responses
0 Respones to "Ibu"
Post a Comment